Artikel Pendidik Sadewa “Indonesia dan Sadewa-ku Melek Teknologi Disaat Pandemi Covid 19”

By : Rina Hidayati
Email: pascarina13@gmail.com

Belum lama ini kita sebagai bangsa Indonesia bersama-sama merayakan kemerdekaan yang ke-75, tepatnya pada tanggal 17 Agustus 2020 lalu. Perayaan ini dikenal dengan istilah “tujuhbelasan” atau dalam bahasa Jawa “pitulasan”, istilah ini sudah sangat tidak asing sekali ditelinga kita karena seluruh warga negara ini merayakannya dengan rasa senang, bahagia dan antusias dari semua kalangan dan semua umur.

Untuk tahun ini memang acara ulang tahun Indonesia berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena keadaan pandemi Covid 19 yang membuat semuanya terasa berbeda dengan biasanya. Hampir di seluruh wilayah dari Sabang sampai Merauke tidak mengadakan lomba secara offline atau sering kita sebut lomba Agustusan. Tapi, bukan berarti ini membuat surut semangat kemerdekaan para warga dan tidak mengadakan lomba sama sekali dalam memperingati kemerdekaan Indonesia ini. Berbagai macam lomba tetap diadakan demi maraknya perayaan satu tahun sekali ini secara online.

Contoh apa saja lomba yang diadakan secara online yaitu:

  1. Lomba menulis Cerpen online
  2. Lomba menulis Puisi online
  3. Lomba menulis artikel online
  4. Lomba menulis karya ilmiah
  5. Lomba meresum Biografi Soekarno online
  6. Lomba menjadi MC online

Keadaan pandemi ini memang membuat dan memaksa semua orang untuk menjadi orang yang kreatif, cepat tanggap dan cerdas. Karena yang biasanya kegiatan sehari-hari kita hampir sembilan puluh persen itu bertatap muka secara langsung, tapi dengan adanya Covid 19 ini seluruh aktivitas yang bertatap muka di batasi. Solusinya diganti dengan online, mulai dari kegiatan sekolah, kerja dan urusan birokrasi pemerintahan semuanya bergantung pada kegiatan online.

Sangat terasa sekali perubahan ini terutama didunia pendidikan, seperti kata menteri pendidikan kita, “Pembelajaran jarak jauh, ini akan menjadi permanen. Bukan pembelajarn jarak jauh pure saja, tapi hybrid model. Adaptasi teknologi itu pasti tidak akan kembali lagi,” kata Nadiem dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR, seperti diberitakan Kompas.com, Kamis (3/7/2020). Keputusan ini jelas menjadi masalah tersendiri dalam kegiatan belajar mengajar, ternyata belajar secara bertatap muka langsung dengan online sangat berbeda. Tidak mudah kegiatan ini digantikan oleh teknologi yang canggih sekalipun. Hampir seluruh orang tua siswa mengeluh adanya kegiatan online, tetapi demi kebaikan bersama merekapun tetap menerima dengan lapang dada.

Berbicara teknologi Indonesia mengharuskan rakyatnya terbiasa dengan “Daring” (dalam jaringan) untuk sekolah mulai dari tingkat PAUD, TK, SD, SMP, SMA/SMK, dan perguruan tinggi. Mulai sekarang anak-anak sekolah sudah tidak asing lagi dengan dunia per-internetan, yang dulu kegiatan online hanya untuk keadaan darurat saja, sekarang sudah terbiasa dan menjadi “habit” tersendiri dikalangan mereka. Mereka sudah bisa mengunggah tugas-tugas di jejaring maya, mengikuti kelas online bertatap muka dengan gurunya, yang semula smart phone mereka gunakan sekedar gadjet saja, sekarang beralih manjadi benda yang penting dan berguna sekali untuk menggali berbagai macam ilmu.

Menilik hampir seluruh sekolah di Indonesia mengadakan kegiatan belajar mengajar secara online ini, sekolah Sadewa tentunya juga tidak ketinggalan dan tentunya terus mengupgrade dirinya untuk mencari solusi yang terbaik demi kelancaran proses belajar mengajar. Berbagai macam cara dilakukan agar siswa-siswi Sadewa tetap nyaman dan menyenangkan dalam belajar.

Apa saja yang sudah dilakukan Sadewa untuk mengantisipasi keadaan ini, banyak hal tentunya, mulai dari pelatihan atau workshop untuk para guru. Yang awalnya asing sekarang para guru Sadewa menjadi ahli dalam mengajar dan pemberian tugas untuk para siswanya secara online. Kegiatan online ini dilakukan di rumah masing-masing guru ada pula yang di sekolah karena piket. Guru-guru secara cekatan dalam pengajaran secara online mulai dari aplikasi yang digunakan dan materi-materi yang jelas menarik. Banyak sekali yang dipelajari para guru dalam workshopnya; Google Classroom, Google Meet, Zoom, WhatsApp, Intagram, Facebook dan masih banyak aplikasi lain yang digunakan demi menunjang keberlangsungan dunia pengajaran.

Pelatihan tidak saja untuk para guru, tetapi para siswapun diadakan. Salah satunya dengan cara sosialisasi para orang tua sebelum proses belajar secara online dimulai di awal semester satu ini. Pelan-pelan orangtua siswa paham dan mau belajar juga demi kelancaran semuanya, tidak mudah memang dalam hal ini karena belum terbiasa menjadi terasa sulit dan asing. Akan tetapi seiring berjalanya waktu hal ini mudah dan bisa teratasi.

Ada banyak pro dan kontra terhadap pembelajaran jarak jauh ini, dkutip dari beritasatu.com menurut Kak Seto pemerhati anak. Menurutnya, semua kebijakan yang ditetapkan pemerintah hendaknya menghargai hak dari keluarga, seperti orang tua ataupun anak-anak. “Kalau memang masih takut, masih penuh pertimbangan dan sebagainya, sehingga belum juga datang ke sekolah, tetap perlu diapresiasi, meskipun daerahnya berada di zona hijau. Mungkin saja sebuah sekolah berada di zona hijau, tetapi guru atau yang lain dari luar daerah hijau, mungkin akan terjadi penularan,” ucapnya.

“Sistem pembelajaran jarak jauh yang berlangsung saat ini, lanjut Kak Seto, hendaknya bisa langsung menyentuh kehidupan anak-anak. Tujuannya untuk memberi anak kesempatan mengembangkan kemampuan beradaptasi, bukan sekadar menghafal materi-materi yang diberikan guru. Anak-anak juga harus dilibatkan untuk berdiskusi. Berbagai ide kreatif dari siswa harus terus digali berdasarkan pengalaman masing-masing, sehingga bisa membuat mereka tetap ceria dan bahagia selama belajar di rumah.”

Dari pemaparan Kak Seto diatas bisa kita simpulkan bahwa beliau setuju dengan adanya pembelajaran jarak jauh ini tetapi kita tidak boleh melewatkan hak anak-anak yang tetap harus bahagia selama belajar dan tetap menjaga mood mereka agar mereka tetap semangat meskipun di rumah. Tidak lupa pula, kita juga harus memberikan mereka kesempatan untuk mengungkapkan ide-ide mereka dan mengajak mereka diskusi seperti suasana di kelas.

Berbicara kontra dalam kasus ini, dikutip dari blokbojonegoro.com ”Namun, ada beberapa hal yang dirasakan langsung oleh orang tua murid, di mana orang tua yang tidak dapat menemani anaknya karena beberapa alasan seperti, kurang memahami cara menjalankan gawai, bekerja dan lain lain. Padahal pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar, anak perlu bimbingan dan pengawasan dari orang tua agar proses pembelajaran anak menjadi maksimal. Dan dari finansial, orang tua perlu mengeluarkan tambahan pengeluaran untuk membeli alat penunjang sekolah yaitu smartphone bagi yang belum memiliki serta kuota internet agar bisa mengikuti pelajaran daring dan anaknya tidak ketinggalan mata pelajaran pada masa pandemi ini.”

Sadewa juga secara langsung merasakan desas-desus orangtua yang mengkhawatirkan tidak bisa mendampingi anak-anaknya yang belajar di rumah karena kurangnya pemahaman berbagai macam mata pelajaran yang terasa asing dan susah bagi mereka. Akan tetapi, Sadewa memberikan solusi bahwasanya setiap guru membuka pertanyaan dan diskusi secara individu. Jadi anak-anak bisa secara langsung menanyakan hal-hal yang belum paham atau susah kepada gurunya per-mata pelajaran.

Kontra selanjutnya adalah masalah kuota internet yang menyebabkan para orangtua menambah jatah pengeluaran bulanan hanya untuk mengisi smartphone anak-anaknya agar bisa hidup dan berselancar didunia maya, karena ini adalah masalah yang serius sekolah Sadewa pun sudah memberikan solusinya yaitu dengan mengurangi jatah SPP tiap bulannya untuk pembelian kuota internet.

Jadi, dalam keadaan sekarang ini memang kita semua harus berjuang bersama-sama demi terciptanya kehidupan yang stabil dan normal seperti sedia kala. Teknologi adalah salah satu solusi terbaik saat ini yang harus kita manfaatkan sebaik-baiknya. Kehidupan sehari-hari kita sangat bergantung dengan teknologi, akan tetapi kita juga harus waspada dengan dampak negatifnya. Pastinya segala sesuatu itu pasti ada positif dan negatifnya, tergantung bagaimana kita menjalaninya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.